“Ngalah-Ngalih-Ngamuk-

Filosofi jawa ini cukup unik. Tiba-tiba muncul kalimat tersebut pagi ini di benak saya.

Ngalah.

Terdengar sederhana tapi menyebalkan. Tapi ternyata mengandung makna yang sangat besar.

Yang salah satu artinya: daripada ribut/berantem lebih baik diam. Ngalah bukan berarti kalah, tapi lebih ke mengalah. Mengedepankan rasa rendah hati. Orang yang ngalah, sekali lagi bukan berarti kalah, tapi berusaha untuk diam dan tak ingin ribut, bukan karena takut, tapi lebih jauh berpikir ke depan, untuk menjaga keharmonisan suatu hubungan.

Ngalih.

Lebih dapat diartikan ‘menepi’ atau menjauh.

Jadi apabila orang tersebut sudah ngalah, ngalah dan ngalah sampai akhirnya dia sudah cukup untuk mengalah. Dia bisa untuk sementara menepi, menjauh. Lagi-lagi bukan karena takut atau lemah. Tapi lebih disadarkan tak ingin memperburuk hubungan ataupun memperkeruh masalah. Memilih untuk diam, tak banyak bicara dan juga menjauh. Bisa saja orang yang ‘ngalih’ ini hatinya sudah demikian terluka, tapi dia memilih untuk diam.

Yang ketiga, Ngamuk.

Nah, ini yang susah. Kata Ibu saya, jangan sampai kita ada di posisi ini jika terjadi konflik dengan siapapun. Karena pada akhirnya, ini tidak lagi jadi kebaikan buat semuanya.
Andai dengan Ngalah dan Ngalih sudah tidak bisa ditahan lagi, ibarat bendungan yang sudah tak mampu menahan volume air yang sudah begitu banyak dan akhirnya jebol.

Kembali lagi ke pelajaran hidup. Kalau yang diajarkan itu baik, bisa membangun dan menjadikan kita manusia yang lebih baik, ditiru, diamalkan itu boleh-boleh saja.

Yang tidak baik, ya tidak perlu ditiru, bagaimana cara kita menyikapinya saja J

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *